|
eduinfo4u
Posts : 16 |
21 April 2010 02:41
|
|
Di Jerman pendidikan tinggi diselenggarakan oleh dua macam institusi, Universität (universitas) dan Fachhochschule (politeknik). Lulusan Fachhochschule (FH) diarahkan untuk mempunyai keterampilan dan pengetahuan praktis yang bisa langsung dipergunakan dalam dunia kerja, sedangkan universitas ditujukan untuk mencetak orang-orang yang akan membuat desain dan inovasi baru. Untuk itu lulusan universitas biasanya diberi pengetahuan teoritis yang lebih banyak daripada lulusan FH. Sekarang baik FH maupun universitas di Jerman memberikan gelar bachelor dan master, tapi secara umum lulusan universitas dianggap lebih tinggi jenjang pendidikannya daripada FH. Walaupun demikian, FH sangat diminati karena lulusannya biasanya mudah mendapatkan pekerjaan di industri karena lulusan FH dianggap siap kerja. Jadi ke mana teman-teman ingin melamar terserah pada minat dan bakat yang ada. Untuk program S-3, tidak ada pilihan lain selain universitas, karena FH tidak diperkenankan membuat program doktor. Memang secara umum pendidikan di Jerman diselenggarakan dalam bahasa Jerman. Itulah juga salah satu sebabnya bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi langsung setelah SMA ke Jerman, biasanya harus melalui sekolah persamaan yang disebut Studienkolleg. Di Studienkolleg ini akan diberikan pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, dll. selain bahasa Jerman. Menurut pengalaman orang-orang Indonesia yang sudah melalui tahap ini, pelajaran di Studienkolleg biasanya tidak terlalu susah buat lulusan SMA Indonesia, terkecuali untuk bahasa Jerman. Lama pendidikan di Studienkolleg tergantung kecepatan teman-teman belajar, tapi biasanya sekitar 1-2 tahun. Tapi jangan khawatir. Sekarang ini sudah semakin banyak jurusan yang dibuka dalam bahasa Inggris di Jerman. Untuk mencari program studi yang sesuai dengan minat dan bakat teman-teman, Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) atau badan pertukaran akademis Jerman, telah menyediakan mesin pencari (search engine) di website mereka: http://www.daad.de/deutschland/index.en.html, di bagian “course search“. Di sana tidak hanya program reguler untuk S1 dan S2 yang tersedia, tapi juga program-program jangka pendek seperti summer school dan training. Untuk program S3, website DAAD juga menyediakan mesin pencari lewat “doctorate” -> “research explorer“. Bagaimana dengan beasiswanya? Website DAAD juga memfasilitasi hal ini. Teman-teman dapat mengklik “support“-> “scholarship database“. Kebanyakan mahasiswa asing di Jerman yang mendapat beasiswa memang mendapatkannya dari DAAD, tapi DAAD ini bukanlah satu-satunya sumber. Seringkali universitas mempunyai kerja sama dengan industri atau badan penelitian seperti Fraunhofer Institute sehingga dapat memberikan beasiswa untuk S2 dan S3 (kadang-kadang ada juga untuk S1, tapi lebih jarang). Atau bisa juga lewat organisasi keagamaan, seperti gereja. Beasiswa-beasiswa dari sumber lain ini juga seringkali dapat ditemukan lewat database DAAD yang disebutkan di atas. Untuk S3, proyek yang dikerjakan itu biasanya mempunyai dana untuk membiayai peneliti, sehingga seringkali mahasiswa S3 di Jerman dianggap bekerja untuk universitas atau institut penelitian dan diberi gaji. Dalam banyak kasus, mahasiswa S3 yang dianggap pekerja ini juga harus ikut membantu proses belajar-mengajar di universitas, misalnya menjadi tutor atau menjadi pembimbing kedua untuk mahasiswa S1 atau S2. Tapi tidak selalu begitu. Banyak juga mahasiswa S3 yang dianggap pekerja hanya melulu melakukan penelitian S3-nya. Keuntungan tambahan bila kita mendapatkan beasiswa DAAD adalah adanya program kelanjutan untuk alumni. Program kelanjutan ini bisa berupa bantuan buku atau alat-alat penelitian, bahkan kesempatan untuk kembali ke Jerman dalam rangka pelatihan atau kursus singkat. Pemerintah Jerman juga memberikan bantuan bagi alumni perguruan tinggi Jerman yang ingin kembali ke negara asalnya.
http://eduinfo4u.wordpress.com
Edited : 21 April 2010 02:45 |